Aku makin suka baca buku
Aku merajut,
Aku berkebun,
Aku lihat bunga di kayun,
Aku jalan kaki,
Aku lihat wayang,
Aku lihat konser,
Aku ngobrol lama sama orang,
Aku naik dokar,
Aku ikut organisasi,
Aku ikut komunitas sosial,
Aku minum kopi,
Aku suka bersih-bersih,
Aku naik bianglala (belum sukses naik carousel),
Aku ke luar kota sendiri,
Aku bahagia.
Kenapa aku suka?
Ada dalang di balik wayang, menurutku.
Ada sosok orang yang di bawah alam sadar telah membuat aku suka dengan semua yang ku lakukan.
Sehingga tanpa paksaan pun aku tidak akan enggan melakukannya.
Aku termasuk salah satu orang yang beruntung karena masih mempunyai eyang, ibu kandung dari ibuku yang ada di sekitarku. Sejak di sekolah dasar, aku tinggal bersama eyang karena beliau tidak berani tinggal seorang diri, begitu pula ibuku. Maka apapun yang dilakukan beliau akan terekam oleh otakku sejak aku kecil. Hari ini aku menemukan buku milik eyang, judulnya "Dalang di Balik Wayang", terbitan tahun 1990. Setelah aku konklusikan semua, akhirnya aku menemukan jawaban atas semua hal yang selama ini aku suka tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa suka.
Eyang lahir pada saat Indonesia masih belum merdeka, beliau adalah saksi hidup masa kemerdekaan menurutku, merasakan zaman penjajahan yang sampai sekarang masih beliau ceritakan. Lahir tepat pada tanggal 10 november. Beliau aktif di kegiatan sosial, sampai sekarang di umur nya yang menginjak 75 tahun masih rajin ke kantor setiap paginya. Eyang suka berkebun, suka sekali. Ketika waktu senggang selalu menyempatkan untuk berkebun di lantai 2 rumah nya. Eyang masih sangat sehat. Beliau mengambil pendidikan guru, guru menjahit. Dan sampai sekarang pun semua sarung bantal di rumah eyang adalah hasil jahitannya. Eyang sangat suka bersih-bersih. Beliau tidak suka melihat rumahnya berantakan barang sedikitpun. Beliau suka jalan-jalan sendiri, semenjak eyang kakung ku meninggal ketika aku umur 3 tahun. Beliau adalah perempuan independent yang aku kenal, nomor dua setelah ibuku sendiri.
Ketika aku kecil sampai aku lulus sekolah dasar, aku masih sangat dekat dengan eyang, maklum ketika di sekolah dasar aku adalah anak rumahan yang setiap pulang sekolah pasti langsung pulang. Aku diajarkan banyak hal, atau meski secara tak langsung banyak hal yang aku dapat. Aku selalu diminta menemani eyang di kebunnya, yang akhirnya aku sedikit demi sedikit tahu cara berkebun. Aku yang mendapat giliran menyiram kebunnya dua hari sekali, dulu. Aku juga mendapat giliran menyapu rumah setiap sore, yang diam-diam beliau menanamkan tentang menjaga kebersihan rumah setiap harinya. Beliau mengajarkan anak dan cucunya untuk membaca, banyak koleksi buku bacaan ibuku yang diturunkan padaku, salah satunya kisah mahabarata dan ramayana. Dalam setiap pelajaran bahasa daerah selama sekolah dasar, eyang ku adalah guru privat ku. Dan setiap hari aku mempunyai rutinitas yang sama bersama eyang. Sabtu malam adalah jadwal menjemput bapak pulang kantor (yang kebetulan kantor nya ada di kotamadya) yang dulunya ramai sekali, dan aku selalu naik dokar. Betapa bahagianya. Dan minggu pagi adalah waktunya makan mie goreng. Lengkap sudah bahagianya.
Memori seperti itu yang akhirnya membawaku sekarang. Aku suka bunga, aku suka berkebun karena dari kecil aku sudah dibiasakan seperti itu. Aku suka merajut, akhir-akhir ini merajut sama anak-anak di depan got galau, karena dari kecil aku suka lihat eyang menjahit. Aku lihat maha cinta rahwana baru-baru ini, aku takjub, tapi lebih karena aku rindu belajar bahasa daerah, rindu belajar sejarah. Rindu membaca buku ramayana dan mahabarata yang sekarang terjajar rapi di lemari. Dulu aku membanggakan diriku karena bisa menghafal semua hanacaraka, tembang macapat, hafal perwayangan yang terakhir aku mengenali mereka hanya di pendidikan sekolah dasar. Aku tidak suka lihat kampus kotor, bawaannya selalu pingin bersih-bersih. Aku suka ikut organisasi, suka ikut himpunan, suka ikut sama sd siswa tama. Sampai sekarang masih suka naik dokar.
Memori masa kecilku seakan meluap-luap di dua tahun terakhir ini, setelah hampir enam tahun mereka tersimpan rapi. Aku bisa melakukan banyak hal, yang aku suka, yang membuatku bahagia. Dan aku tidak akan berhenti melakukannya.
Terimakasih, Eyang.