Saturday, December 28, 2013

Just fine.

I want to go somewhere
a few days
bring a lot of books
and read,
and drink coffee,
and listen to good music,
then read again.
Just read.



and I'll be just fine.
 soon.

Wednesday, December 25, 2013

Jangan sekarang, tolong.













Ketika semua berjalan begitu bahagia
dan kamu tidak punya persiapan apapun
tentang apa yang akan terjadi
nanti
dan semua penyesalan akan datang belakangan
dan aku tidak mau itu terjadi
lebih tepat nya belum siap
tolong,
jangan sekarang.
 
"It's not the goodbye that hurts, but the flashbacks that follow."

Tuesday, December 24, 2013

Entah sampai kapan.

Aku tidak sedang baik-baik saja.
Huh.
Aku rindu, sepertinya.
Dan ini yang aku takutkan daridulu.
Ketika pada akhirnya,
Aku rindu.
Lagi.
Lalu sampai titik dimana aku lelah
dengan semua kerinduan
dan memilih untuk melepaskan
dan berusaha tidak ada penyesalan
dan aku berhasil.

Dan lagi-lagi,
sekarang,
aku rindu.

Sunday, December 22, 2013

Dalam Doaku.

Sapardi Djoko Damono, 1989, kumpulan sajak "Hujan Bulan Juni"

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara


Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana


Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu


Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku


Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku


Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu


untuk kamu yang sedang resah, semoga semua berjalan baik-baik saja
aku selalu mendoakan keselamatanmu. semoga bahagia.

Tuesday, December 17, 2013

Ternyata gini rasanya
Jadi rahwana buat sinta
Aku baru tahu sekarang
hahahahahahahaha

Mimpi

Bermainlah kamu di taman-taman alam
Dimanapun yang kamu boleh main disitu
Di taman bermain yang Tuhan sediakan untukmu
Berteduhlah jika hujan atau kamu memang ingin bermain hujan
Bermimpilah seindah yang kamu ingin impikan
Walau mungkin kau hanya bisa bermimpi
Beranganlah setinggi langit sebagai hiburanmu
Berkhayallah sesukamu,
Bermain-mainlah dengan teman-temanmu setiap waktu
Neneng pina, babil risai dan Omei dan teman-temanmu yang lain
Maafkan bapak ibumu yang tak bisa membahagiakanmu
Senangkanlah hatimu
Lukislah mimpi-mimpimu seindah yang kau suka
dan percayalah bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan
dengan kau melukis, bermain musik atau apapun yang kau bisa lakukan
Smoga Tuhan kasih petunjuk, bimbingan dan slalu melindungimu
Percayalah... Tuhan maha Pengasih... maha Penyayang...




Saturday, December 7, 2013

This is our finish line
I'd already take a moment to say goodbye
Adieu!

Wednesday, December 4, 2013

Dalang di Balik Wayang

Aku makin suka baca buku
Aku merajut,
Aku berkebun,
Aku lihat bunga di kayun,
Aku jalan kaki,
Aku lihat wayang,
Aku lihat konser,
Aku ngobrol lama sama orang,
Aku naik dokar,
Aku ikut organisasi,
Aku ikut komunitas sosial,
Aku minum kopi,
Aku suka bersih-bersih,
Aku naik bianglala (belum sukses naik carousel),
Aku ke luar kota sendiri,
Aku bahagia.

Kenapa aku suka?
Ada dalang di balik wayang, menurutku.

Ada sosok orang yang di bawah alam sadar telah membuat aku suka dengan semua yang ku lakukan.
Sehingga tanpa paksaan pun aku tidak akan enggan melakukannya.

Aku termasuk salah satu orang yang beruntung karena masih mempunyai eyang, ibu kandung dari ibuku yang ada di sekitarku. Sejak di sekolah dasar, aku tinggal bersama eyang karena beliau tidak berani tinggal seorang diri, begitu pula ibuku. Maka apapun yang dilakukan beliau akan terekam oleh otakku sejak aku kecil. Hari ini aku menemukan buku milik eyang, judulnya "Dalang di Balik Wayang", terbitan tahun 1990. Setelah aku konklusikan semua, akhirnya aku menemukan jawaban atas semua hal yang selama ini aku suka tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa suka.

Eyang lahir pada saat Indonesia masih belum merdeka, beliau adalah saksi hidup masa kemerdekaan menurutku, merasakan zaman penjajahan yang sampai sekarang masih beliau ceritakan. Lahir tepat pada tanggal 10 november. Beliau aktif di kegiatan sosial, sampai sekarang di umur nya yang menginjak 75 tahun masih rajin ke kantor setiap paginya. Eyang suka berkebun, suka sekali. Ketika waktu senggang selalu menyempatkan untuk berkebun di lantai 2 rumah nya. Eyang masih sangat sehat. Beliau mengambil pendidikan guru, guru menjahit. Dan sampai sekarang pun semua sarung bantal di rumah eyang adalah hasil jahitannya. Eyang sangat suka bersih-bersih. Beliau tidak suka melihat rumahnya berantakan barang sedikitpun. Beliau suka jalan-jalan sendiri, semenjak eyang kakung ku meninggal ketika aku umur 3 tahun. Beliau adalah perempuan independent yang aku kenal, nomor dua setelah ibuku sendiri.

Ketika aku kecil sampai aku lulus sekolah dasar, aku masih sangat dekat dengan eyang, maklum ketika di sekolah dasar aku adalah anak rumahan yang setiap pulang sekolah pasti langsung pulang. Aku diajarkan banyak hal, atau meski secara tak langsung banyak hal yang aku dapat. Aku selalu diminta menemani eyang di kebunnya, yang akhirnya aku sedikit demi sedikit tahu cara berkebun. Aku yang mendapat giliran menyiram kebunnya dua hari sekali, dulu. Aku juga mendapat giliran menyapu rumah setiap sore, yang diam-diam beliau menanamkan tentang menjaga kebersihan rumah setiap harinya. Beliau mengajarkan anak dan cucunya untuk membaca, banyak koleksi buku bacaan ibuku yang diturunkan padaku, salah satunya kisah mahabarata dan ramayana. Dalam setiap pelajaran bahasa daerah selama sekolah dasar, eyang ku adalah guru privat ku. Dan setiap hari aku mempunyai rutinitas yang sama bersama eyang. Sabtu malam adalah jadwal menjemput bapak pulang kantor (yang kebetulan kantor nya ada di kotamadya) yang dulunya ramai sekali, dan aku selalu naik dokar. Betapa bahagianya. Dan minggu pagi adalah waktunya makan mie goreng. Lengkap sudah bahagianya.

Memori seperti itu yang akhirnya membawaku sekarang. Aku suka bunga, aku suka berkebun karena dari kecil aku sudah dibiasakan seperti itu. Aku suka merajut, akhir-akhir ini merajut sama anak-anak di depan got galau, karena dari kecil aku suka lihat eyang menjahit. Aku lihat maha cinta rahwana baru-baru ini, aku takjub, tapi lebih karena aku rindu belajar bahasa daerah, rindu belajar sejarah. Rindu membaca buku ramayana dan mahabarata yang sekarang terjajar rapi di lemari. Dulu aku membanggakan diriku karena bisa menghafal semua hanacaraka, tembang macapat, hafal perwayangan yang terakhir aku mengenali mereka hanya di pendidikan sekolah dasar. Aku tidak suka lihat kampus kotor, bawaannya selalu pingin bersih-bersih. Aku suka ikut organisasi, suka ikut himpunan, suka ikut sama sd siswa tama. Sampai sekarang masih suka naik dokar.

Memori masa kecilku seakan meluap-luap di dua tahun terakhir ini, setelah hampir enam tahun mereka tersimpan rapi. Aku bisa melakukan banyak hal, yang aku suka, yang membuatku bahagia. Dan aku tidak akan berhenti melakukannya.

Terimakasih, Eyang.


Sunday, December 1, 2013

Reblogged

Mungkin Yang Kita Perlukan Adalah Hidup Yang Tanpa Basa Basi
Kenapa setiap orang tidak tumbuh saja menjadi seperti apa dia. Tanpa perlu didefinisikan. Ia hanya perlu tumbuh menjadi seperti apa dia. Ia tidak perlu memaksakan dirinya untuk menjadi “sama” dengan orang lain. Untuk menjadi seperti apa yang orang lain “mau” pikirkan tentangnya.

Kenapa ketika bertemu dengan orang baru, kita tidak menerima orang itu apa adanya saja. Tanpa perlu melihat dia siapa. Tanpa perlu tahu kepentingannya apa. Tanpa peduli amat keuntungan dia buat saya apa. Hanya sekedar berkenalan. Hanya sekedar saling menghormati. Hanya sekedar mengobrol asik.

Hidup yang tanpa basa-basi. Hidup yang tanpa bertanya: keuntungan dia buat saya apa.
Sudah jarang sekali saya mendapati orang yang seperti itu. Sudah jarang sekali, saya sendiri memperlakukan orang seperti itu. Yang terjadi pada saat ini adalah saya berkenalan dengan orang baru sebagai sebuah iming-iming “membangun jaringan.”

Ataupun sebaliknya ketika orang berkenalan dengan saya, karena saya adalah seseorang yang bisa membawa keuntungan bagi mereka. Atau mungkin saya bisa membawa kepentingan buat mereka.

Untuk itu kita diajarkan banyak hal tentang “basa basi” ketika mengobrol dengan seseorang. Kita perlu untuk hanya sekedar berbasa-basi sebentar dan kemudian baru masuk ke inti persoalan.

Hal ini kemudian coba saya obrolkan dengan seorang teman, dan kemudian dia berpendapat bahwa “keramahan” adalah sebuah nilai yang sangat diagungkan. Karena kita Indonesia. Karena sejak dulu memang kita telah diajarkan untuk senatiasa “ramah” kepada siapapun termasuk orang yang tidak kita kenal.

Tapi hal ini kemudian hanya menjadi sesuatu yang indah di “permukaan.” Keramahan itu sendiri hanya sebagai pemoles dalam bersikap. Seperti lipstik merah yang saya pakai sekarang. Hanya sekedar pemanis.

Kenapa kita melakukannya: karena kita tidak ingin dinilai jutek.

Haha. Bahasan ini kemudian semakin menarik. Karena apapun yang kita lkukan terhadap orang lain. Selalu erat hubungannya dengan penilaian orang lain terhadap kita. Penilaian yang baik menjadi tujuan. Dan selalu ingin dilihat “baik-baik” menjadi sebuah pencapaian.

Saya berpikir bahwa, terlalu dangkal jika yang kita kejar dalam hidup adalah supaya kita terus-terusan menyenangkan orang ain dengan apa yang kita lakukan. Kita “baik-baik”, selalu bisa ber”basa-basi”, selalu “ramah” denga orang lain hanya karena kita takut. Takut dinilai buruk oleh orang lain.

Padahal tidak perlu.

Saya ingin memandang segala sesuatu lebih sederhana. Bagaimana jika ketika bertemu orang baru, kita ramah karena keramahan itu memang ada di dalam kita. Tetapi sebaliknya ketika bertemu dengan orang yang nyebelin, kita juga bisa menunjukkan bahwa kita tidak suka. Dan bahwa kita juga bisa nyebelin. Haha.

Lalu berhentilah berbasa-basi. Katakanlah apa yang memang ingin kamu katakan kepada seseorang: baik ataupun buruk. Dengan jujur. Dan tahanlah dirimu dari mengatakan hal-hal manis tapi omong kosong.