Sial,
semua karena Laura & Marsha
yang membuatku menangis tak berujung di sudut ruangan kecil di kampus pagi tadi
yang membuatku tidak bisa menyampaikan secara detail tentang apa yang aku rasakan
bahkan padamu sekalipun
padahal aku sudah menyusunnya sangat rapi.
Kamu rindu tulisanku?
maaf sekali lagi
ketika apa yang terjadi selama ini membuat mu remuk redam
tapi tak boleh kamu sangkal
aku juga merasakannya
aku juga sama sepertimu
awalnya aku akan menulis panjang lebar tentang aku dan kamu yang sekarang
tentang kerinduanmu dan milikku
tapi semua hilang
rangkaian kata itu, yang sok manis dan puitis
karena berujung hanya satu
aku tidak mau kehilangan kamu. sedetikpun.
itu intinya.
Aku tidak mau menjadi Laura yang kehilangan Ryan
jauh-jauh mengejar ke belahan Eropa
dan mendapatinya tiada
dan yang ada di pikiran ku detik itu juga adalah kamu.
Karena ketakutan ku ini,
bukan ketakutan akan kehilangan karena melepaskan,
tetapi bagaimana jika,
suatu saat nanti,
kamu benar-benar pergi?
Kini aku bicara hidup dan mati.
Aku takut sendiri.
"Dan aku akan selalu mendoakan keselamatanmu."
No comments:
Post a Comment